
Purna duduk membelakangi jendela. Tanganya masih sibuk memegangi kertas origami yang dia buat bentuk bangau. Wajahnya pucat, tapi masih menyiratkan harapan. Harapan-harapan yang entah benar terwujud atau tidak. Purna mengambil kertas selanjutnya, dan dia mulai melipat lagi burung bangau dari kertas itu. Ini bangau yang ke 47, gumamnya.
“Purna, ayo sarapan dulu” kata Bunda
“sebentar lagi, tante!” ucapnya tanpa meninggalkan pandanganya dari kertas merah hati yang ia pegang. Bunda berlalu, meninggalkan Purna. Bunda harus menyiapkan bekalku dan adik-adikku.
-o0o-
Purna, gadis kecil 9 tahun. Seharusnya dia menikmati harinya dengan bermain dan mencoba hal-hal baru. Bukan begini, berkutat dengan jaket tebal, dan berbotol-botol obat untuk mambantunya tetap menatap matahari. Purna pun manusia, kadang dia lelah dan marah terhadap keadaan, namun perlahan dia sadar, cemberut bukan solusi. Purna hanya akan menangis, jika ia benar-benar tak kuat menahan beban dibahunya. Wajahnya kuyu sekali, dan ruam-ruam diwajahnya makin tampak, sehingga membuat Purna keliatan lebih tua dari usianya. Tubuhnya hanya kulit pembungkus tulang. Tulang-tulang yang sering nyeri dan bengkak kalau dia kecapean.
Dia sepupuku. Ibunya menitipkan pada Bunda karena alasan kesehatan. Dia tinggal di kota yang hanya berisi asap-asap pabrik dan knalpot. Keadaan itu memmperburuk kondisinya. Atas permintaan Bunda pula, akhirnya Om dan Tante Rusydan setuju untuk menitipkan Purna ke rumah kami.
Purna cerdas, matanya lincah, tanganya cekatan. Budinya baik, meski kadang menjengkelkan. Bunda tidak pernah membedakan aku, Dimas, dan Ruby dengan Purna. Dia selalu bisa membuat kami tersenyum. Disini, di rumah mungil di atas kaki bukit ini, Purna melepaskan belenggunya. Dia terus coba menikmati hidup dengan apa adanya. Mengumpulkan biji cengkih, membantu Bunda meracik teh, atau merangkai bangau.
Pernah suatu hari aku tanya Purna yang tidak bergeming dari sisi tempat tidurnya “Untuk apa kau buat bangau sebanyak ini, Purna?”
“kalau Purna bisa merangkai seribu bangau dan memasangnya di pintu, Purna akan mendapatkan apa yang Purna inginkan.”
Aku tersenyum, dasar anak kecil, “siapa yang ,mengajarimu?”
“Eyang”
”memangnya apa keinginanmu Purna?”
“Purna ingin sembuh” ujarnya enteng tanpa memedulikanku yang tercekat mendengar ucapanya. Sungguh sederhana. Harapan, yang sering kali dilupakna manusia.
Aku berlalu, membiarkan Purna dengan mimpi-mimpinya.
–o0o-
Bunda sudah menghidangkan teh di meja makan. Aku, Dimas, Ruby dan Purna sudah berkumpul. Kali ini Bunda membuat nasi goreng telor, lengkap dengan lalapanya. Aku mengambilkan secangkir teh untuk Purna. Dia segera meminumnya hingga hampir habis, aku tersenyum. Lalu kutuang ladi teh untuknya. Teh buatan Bunda berbeda dengan teh yang ada di pasar-pasar. Bunda memetik daun teh, dan meraciknya sendiri. Kadang, Bunda menambahkan melati agar aromanya lebih harum. Bunda selalu membiasakan kami untuk minum teh. Kata Bunda, kasiatnya banyak sekali untuk tubuh, agar tetap hangat, terutama untuk Purna.
Pagi ini, masih saperti biasanya. Kulewati hari dengan aktifitas yang seharusnya. Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Aku menata rambutku dengan gel rambut. Kubiarkan rambutku berdiri, seperti sapu lidi terbalik. Kata teman-temanku, aku cocok dengan model rambut seperti ini. Mataku bergerak, namun terhenti pada deretan angka di kalender. Tepat dua minggu lagi genap tahun ke9 Purna. Aku ingin memberinya sesuatu, sesederhanapun itu.
–o0o-
Malam menjelang, membiaskan angan Purna yang tak jua pejamkan mata. Daun jendela kamarnya terbuka setengah mengintip rembulan. Pias ruam-ruam wajah sayunya menengadah, membelai malam. Menyanyikan kesakitan yang amat sangat. Sakit yang tak terbagi, meski untuk mamanya sendiri.
Purna meregang, batinya merintih, air tahananyapun meleleh. Jika malam datang, Purna sering menangis, terkadang manangis senyuman. Sebuah senyuman atas kepahaman akan keadaan. Kembali Purna menangis, lantas tersenyum. Jika harus seperti ini, biarlah aku menjadi orang paling bahagia menikmati singkatnya hidup, desisnya lirih.
Purna teringat nasehat Eyang bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang membuat sekitarnya bahagia. Dan kebahagiaan itu muncul dari dalam hati. Sedetik kemudian, Purna tersenyum lagi
–o0o-
Hari lepas hari, detik sirnakan satu-satu pertahanan Purna. Dia masih meminum obatnya, masih selalu berjalan telanjang kaki diatas rumput basah oleh embun pagi, masih mengumpulkan biji cengkeh, masih terus merangkai bangau, dan masih menikmati teh buatan Bunda kala matahari terbit dan tenggelam. Hanya saja, Purna tak sesegar dulu.
Purna adikku yang lucu, tak ada yang menduga harus berjalan pada rel hidup yang ini. Kini, Purna hanya hidup dengan cinta dari sekitarnya. Juga secangkir teh untuk tetap membuat Purna membuka mata kala pagi tiba.
-o0o-
Aku berjalan setengah berlari, tak sabar ingin segera sampai rumah. Di balai desa ada pasar malam, pasti Purna dan Ruby senang bila aku mengajak mereka bermain di sana. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun Purna. Aku akan membelikanya gulali, pita rambut, dan menyuruhnya naik kuda-kudaan, kereta mini, atau apa saja yang ia minta.
“Purna..! Ruby..! ayo ganti baju! kakak akan mengajak kalian ke pasar malam di balai desa! Kita akan berangkat sebelum matahari terbenam! Dimas, kau juga ikut, bantu kakak menjaga mereka!”
“siiip!!!” ujar Dimas.
Aku bergegas menuju kamarku, mengganti seragam putih abu-abuku dengan kaus oblong dan jeans belel. Aku mengangkat bantalku dan mengambil amplop yang berisi tabunganku dari uang jajan, hmm…lumayan untuk bersenang-senang malam ini, aku bergumam.
Semua sudah siap, tapi Purna belum tampak keluar. Aku mencarinya, ternyata dia masih di kamar. “ayo, Purna, semua sudah menunggumu….”
“sebentar, kak, Purna sedang menyelesaikan bangau terakhir” ujarnya sembari meraih kertas lagi. Langsung aku rebut kertas itu dan menariknya keluar ”nanti saja, kalau kita sudah pulang dari pasar malam, ya?”
Dia menurut saja, meski agak cemberut. Aku menatapnya, kemudian ia tersenyum, “OK!” ucapnya seraya menjentikan tanganya.
“Bunda, kami berangkat !”
“Purna tidak minum teh dulu?”
“Nanti saja Bunda, matahari sudah hampir tergelincir, pasti disana sudah ramai..” ucapku.
-o0o-
langkah kaki kami begitu ringan menuruni kebun teh yang sangat luas. Aku dan Dimas bergantian menggendong Purna kalau dia mulai kelelahan. Kami bernyanyi, bercanda dan saling tertawa. Sembari menikmati hari yang mulai gelap oleh malam.
Benar saja, ketika kami sampai, tempat itu sudah sangat ramai. Purna dan Ruby naik kereta kelinci, sementara aku dan Dimas melihat mereka dari jauh. Setelah itu, Ruby merengek minta dibelikan bando merah hati. Aku membeli dua, untuk Ruby dan Purna.
Malam semakin larut, aku rasa mereka sudah cukup bahagia. Ketika mereka sedang duduk di tepi taman, aku muncul dari belakang dengan membawa roti bolu yang ditusuk lilin angka sembilan diatasnya. Kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Purna. Kami menyanyi dengan penuh semangat. Aku tak pernah melihat Purna sebahagia ini. Namun, sebelum Purna meniup lilinya, tubuhnya limbung, mengibaskan kesadaranya. Kepelanya tertarik kebelakang, dan dia pingsan.
Ruby menangis, menyaksikan sepupunya, Dimas memegangi tubuh kecil Purna. Aku panik, dan segera berlari meminta bantuan untuk Purna…..
-o0o-
Ini sudah hari ke enam setelah ulang tahunya. Tapi Purna masih saja belum mau membuka mata. Dia koma, karena lelah yang begitu banyak. Tubuhnya menggigil. Tangan dan kakinya bengkak. Lupus yang bertengger di tubuhnya bukanlah lawan sepadan untuk semangat Purna kecil. Dokter belum bisa memastikan apakah Purna bisa kembali sehat atau tidak. Hanya keajaiban Tuhan dan cinta disekitarnya yang bisa menolongnya.
Dibalik jendela kamar Purna, aku berdiri. Mataku basah, mengingat kebodohan yang aku lakukan. Kalau saja aku tak melarangnya untuk merangkai bangau yang keseribu, dan mendengarkan ucapan Bunda untuk memberinya secangkir teh, mungkin, tidak begini ceritanya……
La-Cha
Ngalian,12:25 Wib, 9 Nop ‘06
you see, i love you....